Mengapa Kontaminasi Terjadi pada Kultur Jaringan: Rangkuman dari Dua Artikel Ilmiah
Ringkasan
Kontaminasi dalam kultur jaringan merupakan masalah serius yang menyebabkan kerugian besar, baik untuk laboratorium penelitian maupun perusahaan komersial. Kontaminasi terjadi ketika mikroorganisme (bakteri, fungi, dan virus) masuk dan berkembang pesat dalam media kultur. Ini adalah tantangan terbesar dalam micropropagation karena media kultur jaringan adalah lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan cepat mikroba, dan sekali terkontaminasi, akan sulit untuk disembuhkan.
1. Apa Itu Kontaminasi pada Kultur Jaringan
Definisi: Kontaminasi adalah masuknya mikroorganisme (bacteria, fungi, yeast, atau organisme lainnya) ke dalam media kultur yang seharusnya steril, sehingga mengganggu atau menghancurkan pertumbuhan tanaman yang sedang dikultivasi.
Mengapa Berbahaya?
- Media kultur jaringan mengandung nutrient yang sangat kaya (karbon, nitrogen, mineral, vitamin)
- Lingkungan kultur (suhu 25-27°C, kelembaban tinggi) adalah kondisi sempurna untuk pertumbuhan mikroba
- Setelah terkontaminasi, re-sterilisasi jarang berhasil – biasanya semua kultur harus dibuang
- Kontaminasi dapat menyebabkan total loss of cultures dalam waktu singkat
2. Jenis-Jenis Kontaminan yang Sering Ditemukan
A. Bakteri (Bacteria)
Karakteristik:
- Adalah kontaminan paling serius dan bermasalah
- Dapat ditemukan baik pada tahap awal establisment maupun selama operasi rutin
- Lebih sulit dideteksi daripada fungi karena tumbuh lebih lambat
- Beberapa bakteri dapat tinggal tersembunyi dan baru muncul setelah beberapa minggu
Jenis Bakteri yang Sering Ditemukan (menunjukkan resistansi tinggi terhadap disinfectant):
- Staphylococcus aureus
- Pseudomonas aeruginosa
- Streptococcus enterococcus
- Clostridium difficile
- Salmonella
- E. coli
- Acinetobacter baumannii
- Bacillus sp.
- Serratia sp.
- Bacteroides sp.
Implikasi: Bakteri dapat berasal dari tanaman atau diintroduksikan selama handling, dan beberapa bakteri dapat berada di dalam jaringan (endogenous infection) yang tidak bisa dieliminasi dengan sterilisasi permukaan saja.
B. Fungi (Jamur)
Karakteristik:
- Kontaminan umum pada tahap awal kultur (establishment)
- Dapat masuk bersama plant material yang tidak disterilisasi dengan proper
- Tumbuh sangat cepat dan dapat terlihat dalam beberapa hari
- Dapat berkembang biak dan menghancurkan kultur dengan cepat
Dampak Saprophytic Fungi:
- Fungi saprophytic tumbuh sangat cepat
- Mengeluarkan enzim yang merusak tanaman
- Membuat retrieval (penyelamatan) kultur yang terkontaminasi menjadi sangat sulit atau tidak mungkin
C. Yeast dan Microorganisme Lainnya
- Yeast dan mycoplasmas dapat menyebabkan masalah, meskipun tidak seumum bacteria dan fungi
- Pests seperti mites dan aphids dapat membawa spore fungi dan bacteria ke dalam vessel kultur
3. Sumber Utama Kontaminasi
A. Plant Material (Tanaman Asal) – SUMBER TERBESAR
Tanaman dari Lapangan (Field-grown plants):
- Memiliki banyak kontaminan di permukaan dari lingkungan
- Lebih terinfeksi dengan spore dan fungi patogen
- Sering membawa endogenous (internal) infection yang sudah ada di dalam jaringan
- Infeksi endogenous ini tidak bisa dieliminasi hanya dengan sterilisasi permukaan
Tanaman dari Rumah Kaca (Greenhouse-grown plants):
- Lebih baik daripada field-grown plants
- Tetap bisa membawa kontaminan, tapi lebih sedikit
Infeksi Laten (Latent Infection):
- Beberapa tanaman membawa mikroba yang tersembunyi/tidak terlihat
- Infeksi ini baru muncul setelah beberapa minggu dalam kultur
- Dapat spesifik untuk jenis tanaman tertentu
B. Sterilisasi Plant Material yang Tidak Adequate
Masalah:
- Sterilisasi permukaan (surface sterilization) hanya membunuh mikroba di permukaan
- Tidak efektif melawan infeksi internal yang sudah ada di dalam jaringan
- Standar sterilisasi konvensional sering gagal mengatasi endogenous infection
Contoh Sterilisasi Konvensional:
- Sodium hypochlorite (NaClO) 1-2% untuk 15-20 menit
- Mercuric chloride (HgCl2) 0.1% untuk beberapa menit
- Ethanol 70% untuk beberapa menit
- Hydrogen peroxide
Keterbatasan:
- Dosis yang terlalu tinggi akan merusak jaringan tanaman
- Dosis yang rendah tidak akan membunuh semua mikroba
- Trade-off antara efektivitas disinfectant dan survival rate tanaman
C. Secondary Contamination Selama Operasi Rutin
Kontaminasi juga bisa terjadi setelah inisiasi kultur, selama fase multiplikasi:
Sumber:
- Handling plant material yang tidak steril
- Transfer cultures dengan teknik aseptic yang improper
- Culture medium yang tidak disterilisasi dengan proper
- Instruments (scalpel, forceps) yang tidak steril
- Growth room/cabinet yang tidak clean/terjaga
- Mites dan pests di growth room yang membawa spore
D. Kondisi Laboratorium dan Teknik Aseptis
Factor yang Berkontribusi:
- Inadequate sterile techniques saat handling
- Improper use of laminar flow cabinets
- Cross-contamination antar vessel kultur
- Kurangnya inspection/monitoring kultur secara reguler
- Growth room hygiene yang kurang
4. Mengapa Kontaminasi Sulit Diatasi dengan Metode Tradisional
A. Resistansi Mikroba terhadap Disinfectant
Banyak bakteri menunjukkan resistansi tinggi terhadap disinfectant berbasis hypochlorite standar:
- Pseudomonas aeruginosa
- Staphylococcus aureus
- Acinetobacter baumannii
- dan lainnya
Ini berarti dosis standar sterilisasi tidak cukup untuk membunuh mereka.
B. Endogenous (Internal) Infection
- Beberapa mikroba sudah ada di dalam jaringan tanaman sebelum kultur dimulai
- Surface sterilization tidak bisa mengeliminasi infeksi internal ini
- Bakteri/fungi ini akan bertahan dan berkembang biak dalam kultur
C. Trade-off antara Sterilisasi dan Viabilitas Tanaman
- Dosis disinfectant yang cukup tinggi untuk membunuh mikroba seringkali merusak jaringan tanaman
- Tanaman yang mengalami damage dari sterilisasi akan memiliki survival rate rendah
- Perlu ditemukan sweet spot: cukup steril tapi tanaman tetap viable
D. Sensitivity berbeda antara Species dan Cultivar
- Tidak semua tanaman memiliki sensitivity yang sama terhadap disinfectant
- Bahkan cultivar yang berbeda dari tanaman yang sama bisa punya sensitivity berbeda
- Ini membuat protokol sterilisasi harus disesuaikan per tanaman/cultivar
5. Dampak Kontaminasi pada Kultur
A. Dampak Langsung
- Total loss of cultures: Setelah terkontaminasi, kultur biasanya tidak bisa diselamatkan
- Rapid microbial growth: Mikroba berkembang biak dengan cepat menggunakan nutrient dari media
- Destruction of plant tissue: Fungi saprophytic merusak jaringan dengan cepat
- Economic losses: Untuk industri komersial, ini berarti kerugian besar
B. Dampak Tersembunyi (Latent Contamination)
Beberapa kontaminan tidak langsung membunuh tanaman, tapi menyebabkan defects:
- Growth retardation (tanaman tumbuh lebih lambat)
- Reduced root formation (pembentukan akar berkurang)
- Altered morphology (bentuk tanaman abnormal)
- Reduced vigor (tanaman kurang vigorous)
Dalam kasus ini, kultur seringkali terlihat normal awalnya, tapi akhirnya harus di-reinitiate.
6. Kompleksitas Sistem: Banyak Faktor yang Berpengaruh
Keberhasilan sterilisasi dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berinteraksi:
| Faktor | Penjelasan |
|---|---|
| Plant species & cultivar | Sensitivity berbeda terhadap sterilisant |
| Explant type | Leaf, stem, nodal, meristem – setiap type punya characteristic berbeda |
| Kondisi tanaman asal | Field-grown vs greenhouse-grown, healthiness |
| Jenis kontaminan | Bacteria, fungi, atau virus – masing-masing butuh pendekatan berbeda |
| Level of contamination | Sedikit vs banyak – butuh dosis berbeda |
| Temperature | Mempengaruhi pertumbuhan mikroba dan efficacy disinfectant |
| pH of medium | Mempengaruhi survival rate tanaman dan mikroba |
| Type & dosage disinfectant | Sodium hypochlorite, mercuric chloride, H2O2, dll |
| Exposure time | Terlalu sebentar tidak efektif, terlalu lama merusak tanaman |
Kesimpulan: Sterilisasi adalah sistem yang kompleks dan non-linier, tidak ada one-size-fits-all solution.
7. Mengapa Diperlukan Pendekatan Baru
A. Limitasi Metode Tradisional
Masalah:
- Sterilisasi konvensional (sodium hypochlorite, mercuric chloride) hanya mengatasi surface contamination
- Tidak efektif lawan endogenous infection
- Risk of damaging plant tissue tinggi
- Tidak ada universal protocol – setiap tanaman butuh optimization sendiri
B. Inovasi Terbaru untuk Mengatasi Kontaminasi
1. Multi-stage Sterilization
- Menggunakan multiple disinfectants secara berurutan
- Lebih efektif mengatasi endogenous infection
- Contoh: Ethanol → HgCl2 → H2O2 → NaClO → Antibiotics
2. Penggunaan Nanoparticles (Silver & Zinc Oxide)
- Silver nanoparticles (AgNPs) dapat membunuh bacteria dan fungi yang resistant
- Efektif pada konsentrasi lebih rendah
- Terbukti meningkatkan growth rate tanaman
- Kekhawatiran: toxicity jangka panjang perlu diteliti lebih lanjut
3. Penggunaan Disinfectants dalam Media Kultur
- Menambahkan low-concentration chlorine ke media
- Terus menekan pertumbuhan mikroba selama kultur
- Tidak menghambat pertumbuhan tanaman
8. Kesimpulan: Mengapa Kontaminasi Terjadi & Solusinya
Root Causes Kontaminasi:
- Plant Material – Tanaman asal sudah membawa kontaminan (surface & internal)
- Inadequate Sterilization – Metode sterilisasi konvensional tidak mengatasi endogenous infection
- Secondary Contamination – Handling dan teknik aseptis yang improper selama kultur
- Kompleksitas Sistem – Banyak faktor yang mempengaruhi, tidak ada universal solution
- Microbe Resistance – Banyak mikroba resistant terhadap disinfectant tradisional
Solusi yang Dikembangkan:
- Multi-stage sterilization – Lebih efektif
- Nanoparticles – Lebih powerful melawan resistant microbes
- In-media disinfectants – Terus menekan pertumbuhan mikroba
- AI optimization – Personalized protocol per tanaman
- Meristem culture – Menggunakan meristem yang naturally microbe-free
Ini adalah alasan mengapa BSP adalah pendekatan yang masuk akal – karena tidak hanya mengatasi surface contamination, tapi juga mencegah secondary contamination dan menekan pertumbuhan mikroba yang resistant terhadap metode tradisional.
Referensi
1. Sriskandarajah, S. (2006)
Hygiene Problems in Plant Tissue Culture Propagation
Combined Proceedings International Plant Propagators’ Society, Volume 56, 238-241
2. Anikina, I., Kaynidenov, N., Turista, D.D.R., et al. (2025)
Control of Contamination of Tissue Plant Cultures During in Vitro Clonal Micropropagation
Online Journal of Biological Sciences, 25(2), 333-342
DOI: 10.3844/ojbsci.2025.333.342